Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 6

 Sabtu, 16 April 2022

Aku tidak tahu catatan ini akan terbagi menjadi berapa bagian kelak, Anakku. Yang pasti, Abi menuliskan lembaran ini murni sebagai pengingat abadi di masa depan, tentang bagaimana jengkal perjuangan dan pesan-pesan cinta yang pernah Abi titipkan untukmu melalui blog Blank's Stories ini.

Akhirnya, engkau yang selama sembilan bulan ini selalu Abi dan Umi nanti-nantikan dengan segenap rindu, kini telah lahir dengan selamat ke dunia. Ada rentetan cerita luar biasa di balik hari kelahiranmu. Mungkin setiap anak yang lahir ke bumi memiliki kisahnya sendiri, namun karena engkau adalah anak kandung Abi, maka kisahmu inilah yang akan Abi abadikan di sini.


Kronologi 11 April: Dari Mengukur Jalan hingga Pecah Ketuban Saat Makan Sate

Perjuangan panjang ini dimulai pada malam hari tanggal 11 April 2022. Sejak malam itu, Umimu sudah mulai intens mengalami gelombang kontraksi. Rasa sakit itu terus bertahan hingga waktu sahur tiba. Namun, karena jarak antar-kontraksi dirasa masih agak berjauhan, pada pagi harinya Abi dan Umi masih sempat keluar untuk "mengukur jalan"—menyelesaikan rutinitas jalan pagi kami demi memperlancar jalan lahirmu, Nak.

Sepulang dari jalan pagi, ritme kontraksi Umi mendadak semakin rapat dan dekat. Berdasarkan pengetahuan yang kami pelajari, kontraksi yang semakin sering adalah indikator kuat bahwa jalan lahir sudah mulai membuka. Abi langsung memutuskan untuk mengambil izin mengajar dari sekolah demi membawa Umimu ke tempat praktik bidan kepercayann kami, Bidan Andriani (Bidan Anri), yang lokasinya tepat berada di sebelah rumah tempat Abi dulu belajar ilmu totok punggung.

Namun sebelum kami berangkat, Umimu didera rasa kantuk yang teramat sangat karena semalaman energinya terkuras habis untuk menahan sakitnya kontraksi. Abi memutuskan untuk membiarkan Umi tidur sejenak sekitar 1,5 jam demi mengembalikan staminanya. Uniknya, setelah bangun tidur, rasa kontraksinya justru sempat mereda. Karena Umi penasaran apakah sudah ada pembukaan atau belum, kami tetap berangkat ke klinik Bidan Anri pada pukul 08:30 pagi.

Sesampainya di sana, Bu Bidan ternyata sedang ada jadwal Tahsin ke RJ, sehingga kami terpaksa pulang kembali ke rumah. Melalui pesan, Bu Bidan menganjurkan agar Umi tetap bergerak dan berkegiatan seperti biasa di dalam rumah.


Pemeriksaan Siang Hari dan Detik-Detik Kepanikan Menjelang Maghrib

Selepas menunaikan shalat Dzuhur, rasa penasaran Umimu kian membuncah. Kami memutuskan untuk kembali mendatangi klinik Bidan Anri. Di sana, Bu Bidan langsung melakukan pemeriksaan dalam sembari memberikan beberapa rangsangan medis agar kontraksinya bisa berjalan lebih cepat. Namun setelah dicek dengan saksama, ternyata belum ada tanda-tanda pembukaan sama sekali. Proses pemeriksaan berjalan lumayan lama karena Bu Bidan menjelaskan bahwa jika tidak ada kontraksi yang kuat, posisi pembukaan akan sangat sulit untuk dideteksi.

Kami pun kembali pulang ke rumah Jalan Hibrida dengan perasaan harap-harap cemas. Sore harinya, Abi menyempatkan diri shalat Ashar di masjid dekat rumah Bu Bidan sembari melambungkan doa agar proses pembukaanmu bisa segera bertambah rapat. Namun, setibanya Abi di rumah, kondisinya masih sama.

Tak lama berselang, susu kurma yang Abi pesan khusus melalui Ustadz Angga akhirnya tiba. Abi langsung memberikan satu botol kepada Umimu. Umi meminumnya dengan sangat lahap, lalu melanjutkan memakan seporsi sate yang sengaja Abi belikan untuk menjaga agar pikirannya tetap rileks dan terhindar dari stres.

Tepat di sela-sela momen menyantap sate itulah, sebuah peristiwa mendebarkan terjadi: air ketuban Umimu mendadak pecah! Seketika itu juga Umi panik, dan jujur, Abi pun ikut panik luar biasa, Nak. Saat kami buru-buru menghubungi Bidan Anri, beliau menginstruksikan agar Umi segera dibawa ke klinik saat itu juga. Kami tiba di sana menjelang kumandang adzan Maghrib. Karena kondisi ketuban yang sudah pecah duluan, Umimu terpaksa harus dipasangi jarum infus. Itu adalah momen yang menakutkan bagi Umi, sebab seumur hidupnya, baru kali itulah tubuhnya harus merasakan sensasi dimasukkan cairan infus.


12 April 2022 Pukul 21:50 WIB: Tangis Pertamamu Memecah Keheningan

Memasuki malam hari, ketegangan di dalam ruang bersalin kian memuncak. Nenekmu bahkan mengaku tidak memiliki keberanian mental untuk ikut masuk mendampingi ke dalam ruangan persalinan. Setelah ibadah Maghrib selesai, Mak Ngah Ayi datang berkunjung bersama abang sepupumu, Zubair, untuk memberikan dukungan moral.

Abi yang duduk di samping ranjang benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hebatnya rasa sakit fisik yang sedang didera oleh tubuh Umimu malam itu. Satu hal yang Abi tahu pasti, rasa sakit itu teramat luar biasa.

Selepas waktu Isya, Omamu akhirnya tiba di klinik. Kehadiran Oma menambah kekuatan baru; Abi dan Oma berdiri rapat di sisi kiri dan kanan kasur untuk terus membisikkan kalimat penyemangat ke telinga Umi.

Sesaat menjelang detik-detik kelahiranmu, ketika puncak kepalamu sudah mulai terlihat di pintu rahim, Bu Bidan dengan sigap menyuruh Umimu untuk menyentuh dan merasakan sendiri kepalamu dengan tangannya. Strategi itu sengaja dilakukan agar Umi mendapatkan suntikan motivasi dan tenaga baru. Sebab, jika engkau terlalu lama tertahan di dalam jalan lahir, hal itu akan berjalan sangat membahayakan keselamatan nyawamu, Nak.

Hingga akhirnya, tepat pada hari Selasa, 12 April 2022 pukul 21:50 WIB, engkau resmi terlahir ke dunia!

Data Kelahiran Bayi:
- Nama Lengkap   : Aisyah Assyifa’
- Berat Badan    : 3.2 kg
- Panjang Badan  : 50 cm
- Waktu Lahir    : 21:50 WIB

Detik ketika suara tangisan pertamamu memecah keheningan ruangan, mata Abi seketika berkaca-kaca menahan haru. Sosok bayi kecil yang selama pekan-pekan terakhir ini hanya bisa kami raba dan tebak dari luar, kini telah nyata berada di depan kelopak mata kami.

Abi langsung melambungkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah Ta'ala, karena baik engkau maupun Umimu diberikan keselamatan dan kesehatan yang sempurna. Abi tahu betul, di luar sana ada banyak sekali drama persalinan di mana hanya salah satu nyawa yang bisa terselamatkan. Abi teramat takut hal buruk itu terjadi pada keluarga kecil kita. Di malam bersejarah itu, Abi dan Umi secara sah telah menyandang mandat dan status baru sebagai orang tua.


Ujian Hari Kedua: Mengatasi Demam Tinggi 38,1°C

Keesokan harinya, tepat badai Dzuhur, kami memutuskan membawa kamu pulang kembali ke rumah nenek di Jalan Hibrida karena Umimu merasa fisiknya sudah cukup kuat untuk melakukan mobilisasi. Namun ujian pertama kita dimulai pada tanggal 14 April. Sejak malam hingga menjelang pagi hari, engkau mendadak berubah menjadi sangat rewel dan terus menangis tanpa henti.

Oma yang melihat kondisimu langsung berfirasat bahwa tangisanmu sudah berada di ambang batas tidak wajar. Niat awal kami ingin membawamu kembali ke tempat Bidan Andri, namun karena beliau sedang ada jadwal Tahsin, kami langsung melarikanmu ke Klinik Harapan Ibunda di Jalan Harapan Raya.

Setelah diperiksa secara intensif oleh dokter jaga, jantung Abi rasanya mencelos mendengar diagnosisnya: engkau ternyata terserang demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 38,1°C.

Jujur Nak, Abi yang sudah sebesar ini saja rasanya belum pernah mengalami demam dengan suhu setinggi itu. Pantas saja sepanjang malam engkau gelisah dan rewel luar biasa. Dokter kemudian memberikan obat tetes khusus untuk menurunkan demammu. Di dalam hati kecil Abi, ada rasa khawatir yang teramat besar melihat bayi mungil yang baru berumur 2 hari sudah harus dipaksa mengonsumsi obat-obatan kimia, namun Abi juga tidak bisa berkata apa-apa lagi demi melihat kesembuhanmu.


Doa Seorang Abi di Samping Tempat Tidurmu

Saat jemari Abi sedang mengetikkan bait-bait kalimat akhir dari postingan blog ini, Abi sedang duduk tenang tepat di samping posisi tidurmu. Abi sesekali menoleh, menatap wajah polosmu yang tampak begitu damai. Engkau sudah terlelap dengan sangat nyenyak sejak sore hari selepas waktu Ashar tadi.

Abi berharap tidurmu bisa terus awet dan nyenyak hingga esok pagi. Namun, jikalau nanti tengah malam engkau kembali terbangun dan rewel, Abi pastikan Abi sudah sangat siap begadang untuk menjagamu, karena kebetulan besok adalah hari libur kerja Abi di sekolah.

Nak, Abi sungguh bahagia... Allah telah memercayakan dan menitipkan jiwa suci sepertimu ke dalam garis hidup Abi. Doa terbesar Abi, semoga Allah senantiasa membimbing dan memantapkan hati Abi dan Umi agar bisa tumbuh menjadi orang tua yang baik, yang mampu mendidikmu dengan jalur kebenaran syariat yang lurus. Kami murni baru belajar menjadi orang tua, jadi mohon dimaklumi jika di sana-sini masih banyak terserip kekurangan.

Ada banyak sekali tumpukan doa kebaikan yang mengalir dari sanak saudara dan teman-teman untukmu, Nak. Semoga engkau kelak tumbuh menjelma menjadi anak perempuan yang sholeha, serta menjadi kebanggaan tertinggi bagi Abi dan Umi di dunia dan akhirat.

Catatan Tambahan Abi: Di dalam postingan blog ini, Abi dengan sengaja memutuskan untuk tidak mengunggah satu pun foto wajahmu, Nak. Abi tahu betul bagaimana nyata dan bahayanya ancaman penyakit 'Ain (pandangan mata yang hasad/kagum tanpa mengingat Allah) di dunia maya. Walau di sisi lain, Abi sadar tidak akan bisa membendung jari orang lain; sebab begitu engkau lahir malam itu, foto-foto wajah mungilmu langsung menyebar dengan sangat cepat di berbagai grup WhatsApp keluarga. Abi hanya bisa berdoa, semoga engkau selalu berada di dalam benteng perlindungan Allah SWT. Sehat-sehat selalu ya, Dek Aisyah. Abi sayang kamu.


Pekanbaru, 16 April 2022

By Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar