Cerita • Perjalanan • Puisi

Cerita PURNAMA PA RIAU IV Tembilahan: Catatan Penutup Petualangan di Enok dan Reuni Mapala (part 4)

08 Mei 2015: Rutinitas di Enok, Drama Jum'atan, dan Pesta Lauk Udang

Pagi pertama di kediaman rumah orang tua Bang Iby di wilayah Enok, aktivitas kami langsung dibuka dengan agenda mencuci baju massal. Maklum saja, sejak berada di Sekretariat BRIMASPALA UNISI kemarin, kami sama sekali belum sempat mencuci pakaian kotor akibat kehujanan di jalan. Jadi, begitu melihat ada kesempatan dan fasilitas air yang memadai, kami langsung tancap gas mencuci seluruh pakaian lapangan.

Menjelang tengah hari, kami mulai bersiap-siap untuk menunaikan ibadah Sholat Jum'at. Sebelum berangkat, sempat terjadi perdebatan dan kebingungan internal di antara kami mengenai skala prioritas: apakah harus mendahulukan makan siang atau mandi bergiliran untuk Sholat Jum'at terlebih dahulu. Setelah memakan waktu berdiskusi yang lumayan lama, akhirnya diputuskan untuk mendahulukan agenda sholat.

Bang Ayim, Bang Fandi, dan Bang Gusti langsung bergerak berangkat duluan menuju masjid. Sementara itu, aku dan Bang Iby terpaksa menyusul belakangan karena harus mengantre mandi. Skenario terburuknya terbukti; saat posisi kami baru menempuh setengah perjalanan menuju masjid, sayup-sayup terdengar bahwa jamaah di dalam ternyata sudah memasuki rakaat kedua. Kami terpaksa putar haluan pulang kembali ke rumah. Mumpung suasana rumah sedang sepi ditinggal warga ke masjid, aku dan Bang Iby menggantinya dengan mendirikan Sholat Zuhur berjamaah di rumah.

Selepas kawan-kawan kembali dari masjid, kami langsung menggelar agenda makan siang komunal di rumah Bang Iby. Menu utama harian yang disuguhkan siang itu luar biasa istimewa bagi kami, yaitu lauk udang segar hasil tangkapan air lokal. Di daerah Enok, komoditas udang berukuran besar seperti ini rupanya sudah dianggap sebagai lauk pauk biasa oleh masyarakat sekitar. Namun bagi kami yang jarang sekali menjumpai kelimpahan udang segar seperti ini, tentu saja langsung merasa sangat senang. Tanpa menghiraukan variasi lauk pauk lainnya yang tersaji di meja, kami langsung melahap habis menu udang tersebut dengan sangat lahap, hehe.

Sisi Lain Pemimpin Lokal dan Dinginnya Tanggul Enok

Menjelang sore hari, di saat kawan-kawan delegasi yang lain memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan tidur siang, aku memilih berjalan-jalan ke area belakang rumah. Di sana, aku melihat Bapak dari Bang Iby sedang sibuk menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas.

Aku memberanikan diri menyapa, "Lagi ngapa tu, Pak?" Beliau lantas menjawab, "Ini lagi nulis siapa-siapa saja yang ikut ke O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional). Panitia yang kemarin itu tak ditulisnya, jadi bingung saya." Dari sapaan awal tersebut, obrolan kami berkembang menjadi diskusi panjang yang sangat berbobot.

Lewat obrolan santai itu pula aku akhirnya mengetahui sebuah fakta emosional; bahwa bekas luka senjata tajam yang membekas di lengan tangan Bapaknya Bang Iby ternyata adalah luka parang. Luka tersebut beliau dapatkan saat berani pasang badan melawan komplotan perampok yang menyatroni gedung Sekolah Dasar (SD) setempat beberapa waktu yang lalu. Sebuah kisah heroisme lokal yang membekas di kepalaku. Setelah puas bertukar cerita, aku pun pamit untuk tidur siang.

Aku baru terjaga terbangun sekitar pukul 19.00 malam. Pas terbangun, Bang Ayim rupanya sudah berpamitan pulang terlebih dahulu menuju ke pusat Kota Tembilahan, sehingga rombongan kami kini tinggal menyisakan empat orang personel saja untuk menikmati makan malam bersama keluarga Bang Iby.

Selesai menyantap hidangan malam, kami berempat keluar rumah untuk menikmati atmosfer suasana malam di wilayah Enok. Terpaan angin malam yang berembus kencang di sekitar pemukiman pinggir sungai ini menghadirkan sensasi rasa dingin yang sangat menusuk hingga ke tulang. Kami menghabiskan malam dengan berkumpul santai di atas struktur Dam penahan air (jika di daerah Siak, masyarakat lokal biasa menyebutnya dengan istilah Turap). Kami nongkrong dan bercengkerama di Dam hingga pukul 22.00 malam, sebelum akhirnya memutuskan pulang ke rumah Bang Iby untuk istirahat tidur.

09 Mei 2015: Penyeberangan Sampan Bocor, Singgah OASIS, dan Reuni JATI UIR

Hari ini adalah jadwal resmi kepulangan kami kembali menuju Kota Pekanbaru. Sebelum melangkah pamit, Ibunda dari Bang Iby dengan sangat baik membekali kami bungkusan nasi lengkap beserta lauk pauknya untuk dijadikan sebagai bekal logistik makanan di tengah perjalanan darat nanti. Setelah seluruh persiapan logistik dan tas karier rapi, kami berpamitan takzim kepada kedua orang tua Bang Iby.

Untuk keluar dari area Enok, kami harus menyeberangi sungai menggunakan moda transportasi air berupa sampan dayung tradisional. Kuota kapasitas lambung sampan tersebut untungnya cukup pas untuk mengangkut dua unit sepeda motor operasional kami.

Meski begitu, sepanjang proses penyeberangan, perasaan was-was dan tegang tidak bisa disembunyikan. Pasalnya, begitu motor naik, aku melihat rembesan air sungai perlahan mulai masuk menyelinap dari celah-celah papan samping kemudi sampan. Sebenarnya, hal utama yang kutakutkan bukanlah keselamatan nyawaku sendiri—karena secara dasar aku memiliki kemampuan berenang yang baik—melainkan nasib sepeda motor operasional kami jika sampai tercebur ke dasar sungai, hehe. Sementara aku tegang, Bang Iby tampak sangat santai dan tenang menikmati penyeberangan, maklum karena dia memang sudah terbiasa dengan ritme kehidupan air seperti ini sejak kecil.

Untuk rute kepulangan kali ini, kami sengaja memilih jalur darat yang berbeda dengan rute keberangkatan kemarin. Jika saat pergi kami harus menyeberang dari arah kota menuju Enok, maka jalur pulang ini kami tidak perlu lagi melintasi pusat kota Tembilahan, karena akses jalurnya akan tembus langsung memotong menuju ke Kabupaten Indragiri Hulu (Rengat).

Setibanya di wilayah Rengat, kami memutuskan untuk melipir singgah sebentar ke Sekretariat Mapala OASIS. Kebetulan, aku pribadi belum pernah berkunjung ke sana dan sangat penasaran ingin mengetahui di mana posisi markas pergerakan mereka. Kami memanfaatkan momentum tersebut untuk beristirahat sekaligus makan siang bersama kawan-kawan OASIS. Menariknya, meskipun kami sudah menegaskan secara jujur bahwa kami membawa bekal makanan sendiri dari Enok, kawan-kawan OASIS tetap saja bersikeras melangkah keluar untuk membelikan kami sebungkus Nasi Padang hangat.

Menghargai ketulusan sambutan tuan rumah, kami akhirnya ikut menyantap nasi bungkus yang dibeli tersebut, sementara bungkusan bekal dari rumah Bang Iby terpaksa kami simpan kembali dalam kondisi masih utuh dan lengkap. Selepas pamit dari sekre OASIS, kami menyempatkan diri singgah sejenak untuk berfoto dokumentasi di kawasan objek wisata Danau Raja Rengat, sembari menuntaskan misi kampus terakhir dengan menyebarkan sisa *banner* promosi STMIK-AMIK Riau yang masih tersimpan di motor.

Perjalanan darat kemudian kami pacu kembali menembus aspal lintas timur. Tepat saat kumandang adzan Maghrib berkumandang, kami mendarat di wilayah Sorek untuk beristirahat di kediaman rumah kawan kuliah Bang Iby, Bang Fandi, dan Bang Gusti, mengingat mereka bertiga adalah rekan satu kelas di kampus. Kami menumpang istirahat sekaligus makan malam di rumah Bang Hendri. Pada momen inilah, bekal bungkusan nasi dari Enok tadi akhirnya kami buka dan santap bersama-sama agar beban bawaan di atas motor berkurang. Selesai makan dan mengisi tenaga, kami berpamitan kepada Bang Hendri untuk melanjutkan sisa perjalanan menuju Pekanbaru.

Jarak tempuh darat dari Sorek menuju Kota Pekanbaru malam itu terbilang cukup singkat, hanya memakan waktu sekitar 1 jam lebih perjalanan saja. Setibanya di pinggiran kota, kami sengaja membelokkan arah motor menuju ke area kampus UIR (Universitas Islam Riau) terlebih dahulu. Langkah ini kami ambil untuk memenuhi undangan perayaan hari ulang tahun organisasi Mapala JATI UIR.

Begitu kami melangkah masuk ke lokasi acara, tawa kami langsung pecah. Ternyata, isi ruangan tersebut dipenuhi oleh wajah orang-orang yang sama yang ikut bergabung dalam forum PURNAMA PA RIAU IV di Tembilahan kemarin, hehe. Kami kembali berkumpul melingkar dengan orang-orang itu lagi. Mungkin karena selama 6 hari maraton di PURNAMA kemarin ikatan emosional dan rasa akrabnya sudah terbangun dengan sangat kokoh, suasana kumpul malam itu terasa sangat seru dan cair tanpa sekat. Dan tebak apa topik utama yang kami perbincangkan di sepanjang acara? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah kilas balik dinamika keseruan PURNAMA kemarin, hehe.

Selepas menghadiri perhelatan ulang tahun Mapala JATI, barulah kami memacu motor pulang ke rumah masing-masing untuk mengistirahatkan raga. Dan dengan demikian, seluruh catatan sejarah petualangan panjang PURNAMA PA RIAU IV resmi selesai sampai di sini. Terima kasih bagi kalian yang sudah setia menyimak jalinan cerita ini dari awal hingga akhir!

Sampai jumpa di catatan petualangan berikutnya,
Blank

Komentar

Posting Komentar