Cerita • Perjalanan • Puisi

Surat Terbuka untuk Calon Istriku di Masa Depan: Sebuah Untaian Doa, Imajinasi, dan Harapan yang Menjadi Nyata

Ada sebuah fase dalam hidup seorang pria di mana ia mulai jenuh dengan petualangan kesendirian, lalu pikirannya melayang jauh ke depan, menerka-nerka siapakah sosok jodoh yang telah dituliskan di Lauhul Mahfudz untuk menemani sisa umurnya.

Catatan ini adalah sebuah surat terbuka yang aku tulis dari masa lalu, tepatnya pada malam musim dingin di akhir tahun 2019. Sebuah ruang jujur di mana aku menumpahkan segala imajinasi, ketidaktahuan, sekaligus harapan besar kepada sosok yang kelak akan memegang jemariku di pelaminan.

Teka-Teki tentang Rupamu dan Sebuah Panggilan Spesial

Wahai calon istriku, saat aku mengetikkan bait-bait kalimat ini, aku benar-benar belum tahu seperti apa rupamu nanti.

Apakah kamu bertubuh tinggi atau rendah? Apakah fisikmu kurus atau gemuk? Aku belum tahu apakah rambutmu ikal, lurus, pendek, atau panjang. Apakah dahimu lebar, jenong, atau datar? Apakah hidungmu mancung atau pesek? Serta apakah pipimu tembam, lonjong, atau mungkin kamu memiliki sepasang lesung pipi yang manis? Aku juga menebak-nebak apakah dagumu lebar, panjang, atau memiliki belahan dagu, serta bagaimana bentuk lehermu.

Namun jujur, aku tidak peduli dengan semua variabel fisik itu. Bagi diriku, yang paling penting adalah ketika mataku memandang wajahmu nanti, seakan-akan seluruh beban dan masalah hidupku seketika sirna tak berbekas.

Aku juga belum tahu harus memanggil dirimu dengan sebutan apa. Mungkin aku bisa memanggilmu "sayang", tapi sepertinya kata itu sudah terlalu pasaran digunakan orang-orang, aku takut kamu jadi terasa tidak spesial. Mungkin juga aku memanggilmu "bunda", tapi rasanya sebutan itu biar menjadi hak eksklusif anak-anak kita saja kelak.

Jika Baginda Nabi Muhammad SAW saja memiliki panggilan sayang "Humaira" untuk 'Aisyah karena rona kemerahan di kulitnya, maka aku berjanji akan mencari dan menemukan satu panggilan paling spesial untukmu setelah aku resmi menikahimu nanti.

Imajinasi Kuliner, Warna Favorit, dan Penjinak Tempramenku

Aku belum tahu apa makanan kesukaanmu. Bisa jadi selera lidah kita berbeda jauh. Namun rasanya hal itu tidak akan menjadi masalah besar karena aku adalah tipe pria pemakan segala, kecuali untuk beberapa jenis sayuran.

Aku sempat membayangkan sebuah kejutan manis: bagaimana jika kamu memiliki masakan hasil kreasimu sendiri? Terbayang olehku, saat aku melangkah lelah pulang bekerja, di atas meja makan sudah tersaji kue-kue hangat yang belum pernah aku ketahui namanya, lalu kamu menamainya sendiri karena itu murni buatan tanganmu. Atau skenario lainnya, kita ternyata sama-sama menjadi pemburu kuliner yang gemar menjelajahi sudut kota demi mencicipi makanan yang belum pernah kita makan. Entahlah, aku terlalu asyik memikirkan keseruan yang akan aku ciptakan bersamamu.

Mengenai warna kesukaan, aku pun belum tahu. Mungkin saja warnamu sama denganku, yaitu biru. Namun apa pun warna favoritmu nanti, ia akan otomatis menjadi warna kesukaanku juga. Warna apa pun yang kamu balut ke tubuhmu, aku akan menyukai warna itu seketika.

Lebih dalam dari itu, aku belum tahu bagaimana karakter dan sifat aslimu. Doa besarku, semoga sifatmu adalah penyejuk yang bisa membuat hatiku tenang. Sosok yang mampu meredam dan menekan ego amarahku. Karena sejujurnya, aku sadar diriku memiliki sedikit sifat tempramen, dan saat ini aku sedang berjuang keras di dalam kesendirianku untuk mengikis habis sifat buruk tersebut.

Kolaborasi Mahkarya dan Misi Petualangan Alam Bebas

Aku juga belum tahu keahlian apa saja yang kamu miliki. Mana tahu, perpaduan antara keahlianmu dan keahlian yang aku punya bisa digabungkan, hingga kita mampu menciptakan sebuah mahakarya hebat yang mengguncang dunia.

Di sisi lain, ego kecilku berharap kamu adalah seorang pencinta kegiatan alam bebas. Jika iya, aku ingin sekali mengajakmu berpetualang menembus rimbunnya hutan, mendirikan tenda bersama, dan menciptakan momen-momen indah di bawah langit terbuka. Atau mungkin kamu adalah pencinta olahraga ekstrem? Aku belum tahu itu. Harapan terbesarku, segala perbedaan yang ada di antara kita nanti justru menjadi lem perekat yang menyatukan kita, bukannya menjadi sumbu bahan bakar untuk saling bertengkar.

Jika di masa depan aku kedapatan bersikap kasar kepadamu, maafkan aku. Sesungguhnya itu berjalan di luar batas kesadaranku sebagai manusia tempatnya khilaf. Jika hari buruk itu tiba, kamu memiliki hak penuh untuk melaporkan tindakanku langsung kepada Ibuku, Bapakku, atau kepada orang tuamu sendiri. Sebab, aku adalah pria yang akan sangat takut sekali jika sampai membuat orang tuaku marah, apalagi jika sampai orang tuamu yang memarahiku. Semoga Allah menjagaku agar aku tidak pernah sekalipun menyakiti hatimu.

Menata Diri di Ruang Tunggu Takdir

Sebagai penutup surat ini, wahai calon istriku yang masih berada di dalam rahasia takdir Tuhan. Ketahuilah bahwa saat ini aku sedang sibuk menempa diri, banyak belajar tentang bagaimana cara mengurusi dan memimpin sebuah rumah tangga yang baik. Aku berharap, di belahan bumi sana, kamu pun sedang melakukan hal yang sama. Mari kita sama-sama belajar, agar modal skill itu sudah matang kita bawa saat kita melangkah bersama membangun bahtera rumah tangga.

Percayalah calon istriku, aku akan menyayangimu dengan seluruh ketulusan yang aku punya. Aku berharap dan berdoa, kelak ikatan pernikahan kita senantiasa dijaga dalam koridor yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Pekanbaru, 27 Desember 2019

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar