Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Al Kindi Islamic School | Januari 2020
Awal tahun telah tiba, dan roda pendidikan kembali berputar. Karena jatah liburanku kali ini hanya berlangsung selama 4 hari, jujur saja bagiku ini tidak terasa seperti sebuah liburan panjang yang mewah. Rasanya hampir mirip seperti suasana akhir pekan biasa (*weekend*), hanya saja kali ini durasinya sedikit lebih lama. Walau singkat, kegiatan selama mudik kali ini memiliki cerita hangat tersendiri. Mari kubagi catatan perjalanan ini menjadi 4 bagian kisah, satu cerita untuk satu hari yang berharga.
Ahad, 29 Desember 2019: Memecahkan Celengan Rindu Menuju Buatan II
Hari Ahad ini aku masih berada di lingkungan sekolah tercinta, Al Kindi Islamic School Pekanbaru. Aku sengaja tidak langsung pulang pada hari Sabtu karena ada beberapa urusan pekerjaan dan administrasi kelas yang ingin aku tuntaskan terlebih dahulu. Jadi, kuputuskan untuk bertolak pulang pada sore hari Ahad.
Karena aku tipe orang yang cukup idealis urusan transportasi, aku tidak mau pulang menggunakan mobil travel lain. Aku memilih setia menunggu travel langganan yang rutenya langsung melintasi kampung halamanku di daerah Buatan II. Jadilah jadwal keberangkatanku ditetapkan pukul setengah 4 sore.
Pagi harinya, setelah menghantarkan pakaian kotor ke toko *laundry*, aku mulai berkemas. Mengingat travel baru menjemput sore hari, aku memanfaatkan sisa waktu untuk beristirahat dan bersih-bersih ruangan sekolah. Sebelum zuhur, rasa penat yang menumpuk membuatku tertidur lelap, hingga baru terbangun sekitar jam setengah 2 siang. Setelah buru-buru sholat dan mandi, aku bergegas menuju halte penjemputan. Sambil menunggu pak supir datang, aku menyempatkan diri makan siang di rumah makan dekat lampu merah Bukit Barisan bernama "Ampera Etek".
Di dalam mobil travel, takdir mempertemukanku dengan beberapa orang sekampung yang juga berniat mudik. Obrolan hangat pun mengalir sepanjang jalan hingga akhirnya roda mobil berhenti tepat di depan rumah tercinta. Rumah yang bagiku adalah tempat terindah, tercantik, terkeren, dan terbahagia di dunia! Begitu melangkah masuk, langsung kusalami dan kucium ibuku tercinta sambil menanyakan kabarnya. Rasanya bahagia sekali, ibarat bait lagu, aku sedang memecahkan celengan rindu yang sudah lama kutabung rapat-rapat.
Tak lama kemudian menjelang waktu maghrib, Bapak baru saja pulang dari tempat kerja. Kusalami beliau, kucium tangannya, dan Alhamdulillah kedua orang tuaku berada dalam keadaan sehat walafiat. Setelah sholat maghrib berjamaah, kulihat masjid di dekat rumahku sedang giat-giatnya dalam tahap pembangunan. Selesai ibadah, aku langsung membuat rencana dengan adikku bahwa besok hari Senin kami harus pergi ke kampung sebelah di daerah Teluk Mesjid, karena di sana kabarnya sedang musim durian jatuh!
Senin, 30 Desember 2019: Dialek Medhok Uwa dan Wanginya Kebun Durian Atuk
Rencana awal kami untuk berangkat ke Teluk Mesjid sejak pagi hari terpaksa ditunda. Hal ini dikarenakan kami harus mengutamakan agenda penting keluarga, yaitu mengantarkan Uwa (sebutan nenek dalam bahasa Melayu) untuk berobat ke Pekanbaru. Kami menemani Uwa melakukan kontrol kesehatan, sekalian membantu Ayi menjemput barang-barang di tempat kosnya karena dia memutuskan untuk tidak mengekos lagi.
Uwaku memang sudah berusia lanjut, dan beliau memiliki riwayat penyakit jantung. Uniknya, Uwaku ini memiliki gaya bicara Melayu yang sangat kental—jika dalam istilah bahasa Jawa, logatnya sangat *medhok* asli tempatan. Ada momen menggelitik saat sesi konsultasi di dalam ruang pemeriksaan dokter:
Uwa: "Dokter, jantung aku ni macam bedebo-debo, terus di kaki aku ni macam ado yang menjalo-jalo..."
Dokter: *(Terdiam bingung sambil memegang stetoskop)*
Melihat dokter yang mendadak kebingungan mencerna istilah kedokteran ala kampung tersebut, Ayi yang langsung paham segera bertindak sebagai penerjemah (*translate*) kalimat Uwa ke dalam bahasa Indonesia baku agar tim medis mengerti keluhan aslinya. Alhamdulillah, urusan rumah sakit selesai dengan lancar.
Kami baru bisa bertolak dan sampai di daerah Teluk Mesjid sekitar pukul 9 malam. Setelah menyapa dan melepas rindu dengan seluruh keluarga besar yang berkumpul di sana, aku tidak membuang waktu lagi. Aku langsung berjalan ke area belakang menuju Kebun Durian Atuk. Di sana, Atuk ternyata sudah setia menunggu kedatanganku di pondok jaga. Rupanya, dari seluruh cucu, hanya aku yang ditunggu-tunggu karena yang lain sudah mencicipi durian runtuh sejak hari pertama, sedangkan aku baru bisa pulang kampung karena terikat jadwal libur mengajar.
Selasa, 31 Desember 2019: Menunggu Durian Runtuh dan "Interogasi" Keluarga
Agenda hari Selasa ini sepenuhnya dihabiskan di bawah rimbunnya pohon durian. Sayangnya, dari hasil berjaga sejak malam hari, kami hanya berhasil mengumpulkan sekitar 13 buah durian saja. Padahal, harapanku malam itu ada banyak buah yang gugur secara alami agar bisa kubawa pulang untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga di rumah pekaranganku. Ditambah lagi, beberapa buah di antaranya sudah langsung ludes kami santap di tempat demi memuaskan selera rasa.
Meski tidak sesuai target awal, akhirnya aku tetap pulang dengan membawa buah tangan sekitar 16 buah durian utuh. Jumlah yang lumayan untuk dinikmati bersama keluarga selama dua hari ke depan. Malam harinya, suasana kehangatan keluarga bergeser ke rumah Mak Ngah. Kami berkumpul dan membicarakan banyak hal. Namun, ada satu topik wajib yang paling suka disinggung dalam forum keluarga besar: apalagi kalau bukan masalah pernikahan! Dan jika tema itu sudah keluar, sasaran tembak utamanya tak lain dan tak bukan adalah diriku sendiri. Sebuah konsekuensi mudik yang sudah sangat kuprediksi sebelumnya, hehe.
Rabu, 01 Januari 2020: Menjaga Thifa & Fatih di RSUD Siak
Memasuki hari pertama di tahun 2020, aku mendampingi Bibik yang harus menjalani jadwal rutin cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siak. Awalnya, aku juga sudah bersiap untuk menjadi pendonor darah bagi beliau. Namun, karena tanggal 1 Januari bertepatan dengan hari libur nasional, mayoritas unit pelayanan non-darurat di rumah sakit sedang tutup, sehingga agenda donor darahku terpaksa dibatalkan.
Selama proses cuci darah Bibik berlangsung berjam-jam, aku mengambil tanggung jawab penuh untuk mengasuh dan mengurusi anak-anaknya yang masih kecil, yaitu Thifa dan Fatih. Menjadi "babysitter" dadakan ini justru menjadi berkah tersendiri bagiku. Lumayan, sebelum harus kembali bertolak ke tanah perantauan Pekanbaru, aku bisa menghabiskan waktu berkualitas dan bermain bersama keponakan-keponakan kecilku yang lucu.
Malam harinya, aku menyempatkan diri bertamu ke rumah Pak Cik. Sebab pada malam sebelumnya saat aku berkunjung, rumah dalam keadaan kosong karena Pak Cik sedang ada urusan pergi ke daerah Dayun.
Kamis, 02 Januari 2020: Kembali ke Rutinitas dan Makna Sebuah Liburan
Hari Kamis pagi, tas ransel kembali digendong. Aku sudah harus kembali membelah jalanan menuju Kota Pekanbaru karena jadwal masuk kerja di sekolah sudah menanti di depan mata. Liburan singkat 4 hari ini menjadi sebuah memori yang sangat menyenangkan bagiku pribadi.
Dari perjalanan singkat ini aku belajar satu hal penting: bagi seorang penulis, sebuah liburan yang berkesan itu tidak harus selalu diidentikkan dengan pergi ke tempat-tempat wisata mewah yang mahal. Hal esensial yang membuat sebuah liburan menjadi benar-benar bernilai dan menyenangkan adalah bagaimana cara kita sendiri bersyukur, menikmati waktu, dan menghargai kehadiran orang-orang tercinta di sekitar kita.
Salam literasi dari perjalanan mudik,
Blank
Komentar
Posting Komentar